3 TAHAP MERAIH KESEMPURNAAN DALAM MELAKSANAKAN HAJI

3 TAHAP MERAIH KESEMPURNAAN DALAM MELAKSANAKAN HAJI

RAIH SEMPURNA KARENA ALLAH SEMATA

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ للهِ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ وَلاَ تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِّن رَّأْسِهِ فَفِدْيَةُ مِّنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ فَإِذَآ أَمِنتُمْ فَمَن تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْي فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَارَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَن لَّمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَراَمِ وَاتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (196)

Artinya: “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyem-belihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gang-guan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya membayar fidyah; yaitu berpuasa atau bersedekah atau berkor-ban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaanNya.”(Al-Baqarah: 196).

Kesempurnaan tidak hanya terbentuk dari susunan kebahagiaan. Tidak pula hanya terbungkus dalam lembaran kesukacitaan. Namun adapula duka yang dirasakan. Kesedihan, kesulitan, keikhlasan, ketulusan dan pengorbanan juga bagian dari kesempurnaan.

Ibadah haji berlangsung dalam bulan hijriyah. Ritualnya hanya dapat terlaksana di bumi Makkah. Bumi yang mana telah dijamin keamanannya.

Wahai manusia yang tercipta dari segenggam tanah, marilah kita cari dan ikuti Ruh Allah Tuhan Semesta. Sambutlah undanganNya dan melangkahlah, tinggalkan segala dunia untuk menuju RumahNya. Karena Allah telah menanti kedatangan kita.

Itulah sedikit pembuka dari penulis untuk menggugah semangat haji bersama sama. Setidaknya, niat kita telah ada. Selebihnya serahkan saja kepada Allah Sang Maha Punya.

Persiapan

Lantas langkah apa yang perlu kita lakukan sebagai persiapan menuju kesempurnaan berhaji. Seperti yang dinyatakan oleh Ali Syari’ati dalam bukunya “ Berjumpa Allah Di Ka’bah”, beliau menyatakan bahwa,

  1. Sebagai persiapan sebelum berangkat haji, segeralah lunasi hutang-hutang kita. Janji adalah bagian darinya.
  2. Selanjutnya, hapuskan segala rasa benci serta amarah kepada kerabat terdekat, sanak family, kawan, dan sahabat. Bahkan relakan kesalahan kepada siapapun yang pernah menyakiti kita. Dan bukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya.
  3. Tulislah wasiat kepada keluarga atau siapapun yang berhak menerima.
  4. Dan yang terakhir, selesaikan segala urusan dunia, baik keuangan maupun yang lainnya.

Semua ini kita lakukan semata sebagai wujud latihan persiapan menghadapi panggilan Tuhan untuk kembali ke RumahNya yang kekal. Karena maut  dapat datang kapanpun dan tidak pernah kita duga. Dan kita ingat, setiap yang bernyawa pasti akan mati juga. Demikianlah persiapan ibadah haji  menjadi lambang saat-saat terakhir perpisahan dan masa depan manusia.

Memasuki Keabadian

Serem ya sahabat, tapi kita memang dituntut untuk siap. Agar kita selalu ingat kepada Allah Sang Maha Melihat. Kini sudahlah saatnya kita mempersiapkan untuk memasuki keabadian. Karena pada hari kiamat kelak, tiada lagi yang dapat kita perbuat. Mata, telinga, mulut, lidah, tangan, kaki, hati dan seluruh anggota badan kita yang akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita.

“Sungguh pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggung jawabannya. “ (Q.S al Isra [17]: 36)

Oleh karenanya, kita harus mempersiapkan sebaik mungkin di kampung amal, sebelum kita tiba di kampung perhitungan. Dan berlatihlah untuk menghadapi kematian sebelum datangnya kematian, yakni dengan menunaikan ibadah haji.

Ibadah haji tak hanya menjadi rukun Islam, bukan pula hanya sekedar pelaksanaan sebuah ritual. Lebih dari itu, ibadah haji menjadi lambang dari perjalanan manusia kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan kembali kepadaNya, itu berarti kita telah bergerak pasti menuju kepada kesempurnaan, kebajikan, keindahan, kekuatan, serta kenyataan. Dan keabadian, merupakan petunjuk kita ke arah yang benar, bukan petunjuk ke arah yang kita inginkan.

Tujuan kita bukanlah kepada sesuatu yang fana (untuk binasa), melainkan untuk berkembang. Sementara itu, perkembangan ini bukanlah lillah (untuk Allah), akan tetapi untuk mengantar kita ilallah (kepada Allah). Karena Allah tidak jauh dari setiap hambaNya. Maka segeralah untuk mendekatiNya dan mencapaiNya.

Raih Kesempurnaan

Setelah kita lalui persiapan, kemudian mulai memasuki keabadian sebagai bekal mental. Kini saatnya kita sempurnakan ritual.

Kita kembali kepada ayat di atas, apa sih histori sebab turunnya ayat ini?

Shafwan bin Umayah menerangkan bahwa ada seorang laki-laki berpakaian jubah dan menggunakan ja’faran menghadap Rasulullah SAW. Dia bertanya tentang apa yang mesti dilakukan untuk berumrah. Tidak lama kemudian turun ayat ini, dan Rasulullah SAW bersabda lepaskan pakaianmu, bersucilah, ganti dengan pakaian ihram dan berumrahlah. Peraturan semacam ini berlaku pula dalam ibadah haji.

Penyempurnaan ibadah haji dapat terlaksana, jika segala kewajiban, rukun, dan  syarat nya sudah terpenuhi. Dan tidak pula kita melakukan hal-hal yang dilarang dalam pelaksanaan ibadah haji. Dari mulai keberangkatan hingga kepulangan jamaah haji. Jika terdapat halangan, maka tunaikanlah apa yang telah diperintahkan.

Demikianlah tahap dalam meraih kesempurnaan dalam pelaksanaan ibadah haji. Untuk lebih rinci terkait kewajiban, rukun dan syarat sah haji insyallah akan kami bahas pada bahasan selanjutnya. Sebagai kata penutup, ada sebuah kutipan menggugah. Agar selalu ada gairah dalam meraih haji dan umrah.

Wahai sahabat, mari kita kembali ke asal mula kita. Mari kita pergi, melangkah dari rumah dunia untuk menuju ke Rumah Allah dengan berniat Haji maupun Umroh. Dan berkunjunglah ke Sang Maha Berkendak, yang telah menciptakan kita menjadi sebaik-baiknya ciptaan di alam semesta. Dia ada dan sedang menunggu – nunggu kedatangan kita. Dengan penuh rasa rindu dan cinta. Marilah kita tinggalkan segala istana kekuasaan kita, kita lupakan timbunan harta kekayaan kita, serta jauhi pemujaan kita yang menyesatkan. Dan bergabunglah bersama jamaah di Mi’ad yang mengunjungi Rumah Allah yang kekal adanya.

351 total views, 3 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini