MUHAMMAD SAW PENYEMPURNA RASUL – RASUL SEBELUMNYA

MUHAMMAD SAW PENYEMPURNA RASUL – RASUL SEBELUMNYA

 

Sebagaimana yang kita tahu, bahwa Muhammad Saw adalah Rasul terakhir yang di utus oleh Allah SWT bagi seluruh umat manusia. Oleh karenanya, kesempurnaan telah  Allah amanahkan kepadanya sebagai penutup dari tugas para Rasul Allah sebelumnya.

Allah telah menyempurnakan Kitab-Nya, dengan bentuk pembenaran serta penyempurnaan dari kitab-kitab Allah sesudahnya. Ialah Al-Qur’an yang telah Allah Amanahkan kepada Muhammad Saw sebagai Mu’jizat dalam menuntun umatnya.

 “Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab dengan benar sebagai pembenar kitab-kitab yang terdahulu serta batu ujian atasnya.” (QS. Al Maa’idah: 48)

Allah juga telah menyempurnakan Agama-Nya  dari agama samawi sebelumnya. Ialah Islam agama yang di bawa oleh Rasulullah Saw sebagai penutup dari agama terdahulu, sekaligus sebagai petunjuk  bagi seluruh hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

 “Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku pun telah ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maa’idah: 3)

Allah juga telah menyempurnakan akhlaq dan pribadi Muhammad Saw, sebagai teladan terbaik bagi umat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al –Ahzab : 21 , yang artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah ……..” (al Ahzab: 21)

Hal ini sejalan dengan hadits qauliyah yang Rasulullah Saw sabdakan kepada para sahabat dan umatnya:

إنما بعثت لاتمم مكارم الأخلاق

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”

Dan salah satu Akhlaq terbaik yang ia miliki adalah Kesederhanaan dan kebersahajaannya.

Kesederhanaan Rasulullah Saw

Tiada seorangpun yang dapat menyangkal akan kesempurnaan akhlak dan pribadi Rasulullah saw. Kelengkapan tak hanya terdapat pada sikap dan sifat yang dimilikinya, melainkan juga dari perjalanan hidupnya.

Dalam perjalanan hidupnya, Muhammad Saw pernah merasakan beragam kondisi dan keadaan. Ia pernah dilanda kemiskinan, kekayaanpun juga pernah ia rasakan. Beliau miskin dalam penuh kesyukuran dan kaya dalam penuh kesabaran. Tak ada yang ia sedihkan atau sesalkan, jika ada hal dunia yang hilang darinya. Ia pun tak berbangga dengan dunia yang berlimpah di kehidupannya. Bahkan banyak dari kisahnya, yang menceritakan bahwa ia pernah mendermakan seluruh hartanya. Tanpa memperhatikan kondisi setelahnya. Ya… ia hidup dalam kezuhudan dan kebersahajaan. Yang ia harap bukan lagi keduniaan, melainkan keridhaan dari Allah, Tuhan semesta Alam.

Hakikat Dunia

Dalam suatu waktu, Rasulullah Saw hendak mengajarkan kepada para sahabatnya – dan kepada kita tentunya-  dengan menggunakan media bangkai kambing yang cacat sebagai perumpamaan tentang nilai dunia di sisi Allah SWT.

Dikisahkan dari Jabir bin Abdillah ra. Bahwasanya Rasulullah Saw pernah melewati pasar bersama para sahabatnya. Tak sengaja Rasulullah Saw melihat ada bangkai kambing yang cacat kupingnya. Dengan memegang kuping kambing yang cacat tersebut, Rasulllah Saw bersabda:

“Siapa yang mau membelinya dengan harga satu dirham?” Tanya Rasul kepada para sahabatnya

“Kami sama sekali tidak tertarik dengan itu wahai Rasul Allah, lagi pula apa yang dapat kami perbuat dengan kambing cacat itu?” jawab para sahabatnya.

“Bagaimana jika ini saya berikan kepada kalian cuma-cuma?” Tawar Rasul

“ Demi Allah, Seandainya kambing itu pun hidup,ia dalam keadaan cacat, sedangkan sekarang ia sudah mati, lantas, apa yang dapat kami perbuat?” jawab enggan para sahabat.

Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “ Demi Allah, dunia itu lebih hina dari kambing ini bagi Allah, sebagaimana pendapat kalian.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Sejak saat itulah, para sahabat Rasulullah Saw menaruh kepentingan dunianya hanya ditangan mereka, tidak masuk kedalam hati mereka.

Sudah Saatnya Untuk Akhirat    

Dikisahkan, bahwa Rasulullah Saw mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarah ke Bahrain untuk mengambil jizyah dari wilayah tersebut. Saat itu, Rasulullah Saw telah mengikat perjanjian damai dengan wilayah kepulauan Teluk itu. Dan mengangkat al-Ala’ bin al-Hadhrami sebagai walinya. Abu Ubaidah kembali ke Madinah dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah, tapi sahabat justru mengerjakan shalat subuh bersama Rasulullah Saw.

Seusai shalat, Rasulullah Saw beranjak, dan para sahabat mendekati Rasulullah Saw. Melihat hal itu Rasulullah Saw tersenyum dan bersabda:

“Aku kira kalian mengetahui Abu Ubaidah datang membawa sesuatu”.

“Benar wahai Rasulullah”, jawab mereka.

Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian. Namun yang aku takutkan adalah ketika dunia dibentangkan  kepada kalian, sebagaimana telah dibentangkannya dunia kepada orang-orang sebelum kalian. Maka kalian akan berlomba-lomba sebagaimana mereka dulu telah berlomba-lomba (untuk mendapatkannya). Lalu kalian akan binasa sebagaimana mereka dulu telah binasa.” (HR. al-Bukhari 3791 dan Muslim 2961).

Sahabat, lihatlah. Betapa takutnya Rasulullah Saw, akan kecondongan ummatnya kepada dunia, yang dapat membinasakan iman kita. Lantas, masih takutkah kita akan hilangnya dunia kita?

Contoh Kesederhanaan Rasulullah

Dari Abu Hurairah ra., ia berkali-kali mengarahkan jari ke mulutnya, sembari mengatakan, “Rasulullah Saw dan keluarganya tidak pernah merasa kenyang dalam tiga hari berturut-turut karena memakan roti gandum. (Keadaan tersebut terus berlangsung) Hingga beliau berpisah dengan dunia”. (HR. Muslim 2976 dan Ibnu Majah 3343).
demikian pula yang diriwatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya.

“Dari Abu Hurairah ra., suatu hari beliau melewati orang-orang yang sedang menikmati daging kambing yang dipanggang. Mereka mengundang Abu Hurairah, tetapi Abu Hurairah tidak mau memakannya. Abu Hurairah berkata, “Sampai dengan saat wafatnya Rasulullah Saw.  Rasulullah Saw tidak pernah kenyang oleh roti yang terbuat dari gandum”. (HR. al-Bukhari 5098).

Masihkah kita mengeluh, saat hanya tempe dan tahu yang terhidang di meja makan kita? Lupakah kita masih banyak diluaran sana saudara kita yang bahkan tak memilliki makanan yang dapat disantap di hari itu?

Yuk kita berkaca dan mencontoh Rasulullah Saw yang di akhir hayatnya saja, ia tak pernah kenyang saat menikmati roti gandum yang ia punya.

Kisah lain yang menunjukkan kesederhanaan dan kebersahajaannya terhadap dunia adalah kisah yang diceritakan oleh Umar ra, salah satu sahabat terdekatnya.

Umar berkisah tentang kebersamaannya dengan Rasulullah Saw, “Aku pernah berkunjung menemui Rasulullah Saw. Waktu itu beliau berada dalam sebuah kamar, tidur di atas tikar yang tidak beralas. Di bawah kepalanya ada bantal dari kulit kambing yang diisi dengan sabut. Pada kedua kakinya daun penyamak terkumpul. Di atas kepalanya, kulit kambing tergantung. Aku melihat guratan anyam tikar di sisi perutnya, maka aku pun menangis.”

Beliau mengatakan, “Apa yang menyebabkanmu menangis (ya Umar)?” “Wahai Rasulullah, Kisra dan Kaisar dalam keaadan mereka (selalu di dalam kesenangan, kemewahan, dan serba cukupan), padahal engkau adalah utusan Allah.” Jawab Umar.

Dan Umar menyatakan, Engkaulah yang lebih layak menikmati isi dunia dibanding raja-raja itu karena Engkau adalah utusan Allah.

Rasulullah pun menjawab, “Apakah engkau tidak senang, bahwa dunia ini bagi mereka dan akhirat untuk kita?” (HR. al-Bukhari 4629 dan Muslim 1479).

Demikianlah, kesederhanaan dalam kehidupan Rasulullah Saw yang dapat kita contoh bersama. Kesederhanaan bukan berarti menghinakan kehidupan kita. Melainkan menjadikan hidup kita lebih bersahaja dan tidak mencondongkan terhadap dunia.

Sudah saatnya, kita kembalikan kehidupan kita untuk akhirat kita

 

 

 

 

402 total views, 4 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini