AL BIRUNI : ILMUWAN MUSLIM UZBEKISTAN YANG TERLUPAKAN

AL BIRUNI : ILMUWAN MUSLIM UZBEKISTAN YANG TERLUPAKAN

Ilmuwan Muslim Yang Terlupakan

Belajar tentang sejarah Islam, sulit rasanya untuk tidak merasa takjub pada karya, penemuan serta prestasi dari para ilmuwan dan intelektual Muslim di Masa lalu. Bagaimana tidak? Hampir setiap apa yang telah kita rasakan saat ini, tak lepas dari hasil penemuan mereka. Seperti ilmu kedokteran yang juga dibahas di dalamnya tentang  pengobatan karya Ibnu sina, Ilmu Matematika yang termasuk di dalamnya penemuan al jabar dan algoritma karya Khawarizmi dan penemuan aritmatika, teori perbandingan, bilangan irasional, metode pemecahan jumlah dll yang merupakan hasil karya al Biruni,  Ilmu Sains yang darinya tercipta mikroskop serta teleskop sebagai alat penelitian, yang juga menghasilkan teori isi padu udara, teori tarikan gravitasi, teori cahaya dan lain sebagainya yang merupakan bentuk hasil karya Ibnu Haitham, serta ilmu sejarah yang darinya terlahir sebuah karya filosofi sejarah fenomenal “al-Muqaddimah” karya Ibnu Khaldun. Dan tentu masih banyak ilmu ilmu lainya yang tercipta dari hasil pemikiran Ilmuwan Muslim dulu kala. Dan dari karya mereka lah perkembangan ini bermula.

Perlu kita ketahui, bahwa mereka tak hanya ahli dalam satu bidang saja, melainkan juga ahli dalam beberapa ilmu lainnya. Sebut saja al Biruni, ia tak hanya ahli dalam bidang matematika, ia juga menekuni dan menjadi ahli dalam ilmu astronomi, ilmu fisika, farmasi, ilmu sejarah, ilmu filsafat dan ilmu lainnya.

Biografi Al Biruni

Abu Ar Rayhan Muhammad bin Ahmad al-Biruni, atau dikenal dengan nama al- Biruni ini terlahir menjelang terbitnya fajar tanggal 4 September 973 M di Kath, sebuah kota di sekitar wilayah aliran sungai Oxus, Khwarizm (Khiva, Uzbekistan). Ia tak hanya ahli dalam beberapa bidang ilmu, namun ia juga mengusai berbagai bahasa seperti Arab, Turki, Persia, Sansekerta, Yahudi dan Suriah. Di usia mudanya, ia tertarik dalam sebuah kajian matematika dan astronomi. Ia menimba ilmu matematika dan astronomi ini dari seorang guru bernama Abu Nasir Mansur. Ketertarikannya ini membawa ia sebagai seorang astronom muda terkemuka. (Baca Juga: Hal Menarik di Uzbekistan)

Menginjak umur 20 tahun, ia mulai berkelana dan melangkah jauh dari negeri asalnya. Demi memuaskan hasrat akan ilmu pengetahuan yang terus menggebu di dalam dirinya. Di usia inilah, ia mulai untuk menulis sebuah karya. Tak jarang, ia berbagi pikiran dan pengalamannya dengan ilmuwan lainnya, Ibnu Sina misalnya– Ilmuwan besar Muslim lainnya yang juga berpengaruh dalam bidang kedokteran di Eropa bahkan dunia-. Meski ia hidup dalam lingkungan dan situasi politik yang tak menentu, semangat serta tekadnya dalam menuntut ilmu dan berkarya tak sedikitpun terganggu. (Baca Juga: Jalur Sutra)

Guru-guru yang berjasa dalam keilmuan dan karya al Biruni

Di balik keberhasilan al Biruni, tentu tak hanya kepandaian, kecerdasan dan kerja kerasnya semata, melainkan ada jasa seorang guru yang juga turut andil dalam membimbing dan mendidik al Biruni, hingga pada akhirnya ia mampu menghasilkan karya yang sungguh luar biasa. Dan beberapa tokoh ulama yang pernah menjadi guru al Biruni sewaktu kecil di antaranya adalah Abu Nasr Mansur Ibnu Ali Ibnu Iraqi, Syeikh Abdusshamad bin Abdusshamad, dan Abu Al-Wafa Al Buzayani. Dari jasa mereka inilah, al Biruni dikenal sebagai seorang ahli di beberapa bidang ilmu pasti (matematika, kedokteran dan astronomi), sejarah dan menguasai beberapa bahasa.

Karya Al-Biruni

Di sepanjang 75 tahun dalam perjalanan hidupnya, al-Biruni telah berhasil merevolusi banyak tradisi keilmuan. Ia telah menulis lebih dari 100 buku, meski saat ini banyak dari karyanya yang telah punah. Kecerdasan dan penguasaannya terhadap berbagai cabang keilmuan dan kemampuannya untuk mensinergikannya berhasil melahirkan pemahaman ilmu yang lebih baik sesuai dengan fungsinya. Hal inilah yang menjadikan al Biruni masuk di antara para ilmuwan muslim terbesar sepanjang masa.
Beberapa karya yang pernah ia hasilkan di antaranya ialah:

  1. Bidang Matematika

  • Aritmatika teoretis and praktis
  • penjumlahan seri
  • Analisis kombinatorial
  • kaidah angka 3
  • Bilangan irasional
  • teori perbandingan
  • definisi aljabar
  • metode pemecahan penjumlahan aljabar
  • Geometri
  • Teorema Archimedes
  • Sudut segitiga
  1. Cabang ilmu lainnya:

  • تحقيق ما للهند من مقولة معقولة في العقل أم مرذولة – sebuah ringkasan tentang agama dan filosofi India
  • الآثار الباقية عن القرون الخالية – kajian komparatif tentang kalender dari berbagai budaya dan peradaban yang berbeda, dihubungkan dengan informasi mengenai matematika, astronomi, dan sejarah.
  • القانون المسعودي – sebuah buku tentang Astronomi, Geografi dan Keahlian Teknik. Buku ini diberi nama Mas’ud, sebagai dedikasinya kepada Mas’ud, putra Mahmud dari Ghazni.
  • التفهيم لصناعة التنجيم – pertanyaan dan jawaban model buku tentang matematika dan astronomi, dalam bahasa Arab dan bahasa Persia
  • Farmasi– tentang obat dan ilmu kedokteran
  • الجماهر في معرفة الجواهر – tentang geologi, mineral, dan permata, dipersembahkan untuk Mawdud putra Mas’ud
  • Al Beruni “On Stones”
  • Astrolab
  • Riwayat Mahmud dari Ghazni dan ayahnya
  • Sejarah Khawarazm

Abu Rayhan al-Biruni pun menghabiskan masa-masa akhir hayatnya di Ghazni (pakistan) dan meninggal serta dikuburkan disana pada tahun 1048 M. demi mengenang jasanya, para astronom mengabadikan nama Al-Biruni di kawah bulan.

Sebagai penutup, ada ucapannya yang menarik, ia mengatakan, “Penglihatan menghubungkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam ciptaanNya. Dari penciptaan alam tersebut kita dapat menyimpulkan ke Esaan dan Ke Agungan Allah Subhanahu Wa Ta’ala”.

Hal ini sejalan dengan yang tertuang dalam Al-Qur’an :

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠  ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمٗا وَقُعُودٗا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka  (Ali Imran: 190-191).

 

 

 

797 total views, 6 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini